Fariha Somya

Hari ini hari Jumat. Konon hari Jumat adalah penghulunya semua hari. Cuaca teduh, malah sedikit mendung, dan udaranya dingin. Rasanya malas sekali aku membuka selimut, tapi alarm di mejaku, yang aku setel di angka 04.45 terus saja memanggil-manggil. Bahkan suara azan pun sudah berlalu. Itu artinya aku harus cepat bangun dan menunaikan kewajibanku, meskipun kehangatan bantal dan kasurku membuai, apalagi sepertinya tadi aku mimpi indah.

Setelah membersihkan diri, aku teringat dengan pekerjaan rumah yang ditugaskan bu guru beberapa hari yang lalu, yaitu tugas membuat cerita pendek. Aku memeriksa kembali dengan membacanya dari awal hingga akhir untuk memeriksa kalau-kalau menemukan kesalahan.

Setelah aku rasa semuanya sempurna, aku merasa cukup puas kemudian aku segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah kemudian sarapan dan tak lupa berpamitan kepada ayah dan ibu. Langkah pertama, keluar dari pintu rumah, tidak lupa aku membaca doa keluar rumah. Kata ibu dan juga guru mengajiku, setiap aktivitas yang baik harus diawali dengan doa yang baik agar lancar dan berkah pula tentunya.

Hari beranjak siang dan orang-orang pun mulai sibuk, ada yang berangkat sekolah sepertiku, ada yang berangkat bekerja dengan seragam kantornya, dan warung-warung di sepanjang jalan sudah ramai pembeli. Jarak dari rumah ke jalan besar hanya beberapa puluh meter tetapi banyak sekali yang bisa kulihat. Semua orang begitu bersemangat untuk memulai aktivitasnya masing-masing.

Tibalah aku di tepi jalan, di depan gang, tempat aku biasa menyetop angkutan umum untuk pergi ke sekolah. Seperti biasa, angkutan umum di pagi hari seperti ini akan dipenuhi anak-anak berseragam sekolah sepertiku. Beberapa sudah kukenal karena sama-sama sering berangkat menggunakan angkutan umum ini. Jalanan cukup padat tapi tidak sampai macet. Alhamdulillah, tidak terlalu lama di jalan aku pun sampai. Memasuki gerbang sekolah anak-anak sudah ramai. Beberapa guru juga sudah terlihat datang. Cuaca yang semula teduh dan sedikit mendung, alhamdulillah berangsur-angsur cerah. Matahari begitu kemilau, cahayanya begitu cantik, kehangatannya menyebar seantero sekolah.

“Dorrr…!! Selamat pagi, Cindy!”

Waduh… Jantungku terasa copot, ternyata Sasa, dia memang hobinya mengagetkanku, biasanya akan ditambah dengan meremas lenganku sampai merah.

“Aawww...!!! Sakit Sasaaa…!!!”

Dan seperti biasa, dia cuman tertawa berderai-derai. “Huh… Bahagia sekali kamu melihatku menderita.”

“Hahaha, maaf, deh, Cin… Ngomong-ngomong, pekerjaan rumahmu sudah selesai belum?”

“Sudah, dong, kalau kamu bagaimana?”

“Udah, sih, tapi pastinya bakal kalah bagus deh sama punya kamu.”

“Hehehe, bisa aja deh, Sa. Itu aku juga dibantu sama ibuku tahu.”

“Iyaaa, deh, kudoakan semoga nilaimu bagus. Tapi jangan lupa ya nilainya sumbangin ke aku ya, hehehe.”

“Mana ada nilai disumbang-sumbangin, kamu ini,” kataku sambil mencubit lengannya.

“Suka-suka aku, dong,” ucap Sasa sambil menjawil kedua pipiku, lantas ia berlari menjauh sambil tertawa-tawa.

Begitulah Sasa sahabatku yang paling baik, kami sangat dekat sejak awal masuk sekolah menengah pertama ini. Hari-hariku selalu ceria dengan kehadirannya. Walau sedikit kesal, sih, dengan sifatnya yang jahil.

Semakin lama siswa-siswi semakin ramai, aku berjalan menuju kelasku yang terletak di ujung koridor. Aku harus memutar melalui koridor yang panjang, tidak lupa mengucap salam ketika bertemu beberapa guru. Bel berbunyi sesaat sebelum sampai di kelasku. Kami masuk mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran hari ini.

“Assalamualaikum, anak-anak,” bu guru muncul dengan sapaan khasnya. Beliau adalah Bu Neneng, guru terfavorit yang mengajar pelajaran bahasa Indonesia.

“Waalaikumsalam, Bu Guru.”

Kami serempak menjawab salam bu guru dan diteruskan membaca doa. “Kumpulkan tugas kalian.”

Lalu tugas kami berpindah ke tangan bu guru. Rasanya berdebar juga. Apakah cerita pendekku akan dapat nilai yang bagus? Kata bu guru nilainya akan dikalkulasi dengan nilai ulangan harian untuk menambah nilai rapot.

Aku berpikir sambil memperhatikan bu guru yang sedang memeriksa beberapa tugas kami.

Tiba-tiba.

“Cindy Tsania Heksa.”

“I … Iya, bu guru.” Aku tergagap kaget.

“Ceritamu agak panjang dibandingkan yang lain. Kamu menulis apa?”

“Cerita, Bu…”

“Cerita apa?”

“Cerita tentang lingkungan sekolah, Bu.”

“Siapa yang membuat ini?”

Aduuuh, deg-degan sekali. Bu guru seperti menginterogasiku. Teman-teman mulai sibuk berbisik-bisik. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku.

“Anu… Itu saya yang buat, Bu…”

Bu guru berjalan ke arah bangkuku.

Aku gemetar.

“Apa ini?”

Bu guru menunjuk paragraf terakhir dari cerpenku. Teman-teman makin berbisik-bisik. Cahaya terang dari luar jendela seolah-olah mendadak gelap.

Ampun, bu guru… Aku berbisik sendiri dalam hati.

“Coba kamu baca!”

Aku semakin gemetar. Membaca paragraf terakhir itu dengan diam. “Baca yang keras!”

Ampun, bu hft… Dalam hati aku mengiba.

“Ayo, baca!”

“Iya… Iya, Bu.”

Lalu mulailah aku membaca paragraf terakhir dari cerita pendekku yang kutulis di buku tugas.

“Demikian cerita pendek ini, kutulis dengan penuh kesungguhan. Tentunya dengan bantuan ibuku tersayang. Eh, maksudnya, ibu membuat ceritanya, aku menuliskannya. Semoga bu guru berkenan memberiku nilai sempurna. Supaya bisa kubagi dua dengan ibu.”

Akhirnya dengan takut dan terbata-bata aku selesai membaca.

“Terima kasih. Nilai kamu sempurna!”

Bu guru berkata sambil bertepuk tangan. Disusul tepuk tangan riuh rendah seisi kelas.

Aku terkejut. Nilai sempurna? Wah. Hebat, dong. Tiba-tiba aku bahagia, ikut bertepuk tangan yang paling keras.

“Tapi…” bu guru memberikan isyarat untuk menghentikan tepuk tangan, “Tapi kenapa, Bu?” jawabku sedikit takut.

“Tapi, Ibu hanya akan memberikanmu separuh nilai, karena separuhnnya lagi akan Ibu berikan langsung untuk ibumu…

“Yahhh… Ibuuu,” ucapku lesu.

“Hahaha…” Dan seisi kelas pun tertawa.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.