Anouk Azaria

FOREVER

Relly Anatasya Fernandez atau biasa dipanggil Tasya. Ia sering sekali menge-stalk para cogan yang ada di Instagram.

Tasya seperti itu hanya iseng-iseng saja katanya. Hobi Tasya itu memang aneh. Ia akan berjingkrak-jingkrak di kasur kalau ia di-follback oleh salah satu cogan incarannya. Tasya merupakan seorang gadis periang, ceroboh, cerewet bahkan sahabat-sahabatnya sudah hafal dengan sikapnya.

Tasya bersekolah di SMA Nusa bangsa. Sekolah itu merupakan milik orang tua Tasya yang sejak dulu sudah didirikan.Tasya berada di kelas X IPS 1.

SMA Nusa bangsa merupakan salah satu sekolah paling favorit di Bandung. Banyak anak-anak yang mengenalnya dan akrab dengannya. Namun, Tasya tidak menghiraukan mereka yang sering shooping atau nonton. Bukannya Tasya sombong. Namun, mereka hanya memanfaatkan kekayaan Tasya saja. Jadi, Tasya tidak mau mempunyai teman yang fake.

Tasya adalah anak pengusaha. Kedua orang tuanya sudah merintis perusahaan sejak masih muda. Andrea Fernandez adalah papa Tasya yang menjadi pengusaha pertambangan sedangkan Ferisca, mama Tasya, merupakan desainer yang butiknya sudah ada dimana-mana. Andrea yang berdarah Belanda dan Indonesia itu menikah dengan Ferisca yang berdarah asli Bandung. Jadi, Tasya itu merupakan gadis yang blasteran. Kecantikannya terlihat jelas dari kulitnya yang putih, hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah merona, dan rambutnya yang cenderung cokelat.

Barack Alexander Nugroho adalah cowok populer dari SMA Bintang Pelajar. Ia terkenal nakal tetapi sejuk dipandang mata. Pemimpin geng dengan nama Garuda, kelompok yang cukup terkenal dengan kasus tawurannya, kasus bolos sekolah, dan sering mengadakan konser dadakan di koridor sekolah. Hobi Barack adalah mencari masalah dengan guru-guru yang ada di SMA Bintang Pelajar. Anehnya, meskipun jauh dari kesan teladan, Barack mendapat amanah sebagai ketua OSIS. Sangat tidak mungkin, bukan? Tidak ada yang berani mengeluarkan Barack dari sekolah ini karena yang punya sekolah ini adalah ayahnya.

Kata orang, Barack itu susah sekali ditaklukan cewek-cewek. Sifatnya yang cuek dengan cewek membuat hatinya sulit didapatkan. Bukannya Barack sok jual mahal. Bagi Barack, berurusan dengan perempuan hanya akan merepotkannya. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah hati. Apa yang akan terjadi dengan Tasya dan Barack akan diungkap seiring berjalannya cerita.

“Pagi, Mom and Dad,” sambut Tasya sambil menuruni anak tangga rumahnya dengan berlari kecil.

“Nak, jangan sambil lari, nanti jat-” Sebelum Ferisca menyelesaikan omongannya, Tasya langsung jatuh dari tangga.

“Aww… Kenapa, sih, harus ada tangga di situ?” gerutu Tasya.

”Jangan menyalahkan tangga. Kamu aja yang nggak liat tangga lain kali liat tangga dulu. Kebiasaan. Dasar ceroboh,” balas Ferisca.

“Daaad,” suara manja Tasya meminta bantuan kepada ayahnya tapi ayahnya malah justru ikut menyalahkan Tasya.

”Kamu tuh emang dari dulu ceroboh, Sayang. Lain kali kamu harus memperhatikan tangga, ya, jangan sampe kayak gitu lagi. Liat kaki kamu sekarang memar, kan?” ucap Andrea.

“Iya, Dad. Udah, ah, Tasya berangkat duluan. Soalnya lagi semangat nih. Abisnya, pas malem Tasya di-follback sama kapten basket SMA Bintang Pelajar,” ucap Tasya membanggakan diri sendiri.

“Dad, hari ini aku berangkatnya pake mobil, ya, soalnya aku mau nengok Intan. Intan lagi sakit. Udah seminggu dia nggak masuk sekolah,” lanjut Tasya.

“Yaudah, hati-hati, ya, Sayang. Byeee~” ucap Andrea dan Ferisca.

Sesampainya Tasya di sekolahnya, dia langsung disapa sopan oleh satpam yang berjaga di gerbang.

”Pagi, Neng Tasya,” ucap satpam tersebut.

“Pagi juga, Mang Ujang,” balas Tasya tidak lupa dengan senyuman lebarnya.

Tasya langsung memakirkan mobilnya di parkiran. Di parkiran sudah ada sahabat-sahabat Tasya, yaitu Yasmin dan si kembar Nurul dan Nuril. Mereka sudah bersahabat sejak kelas satu SD. Mereka begitu mengenal satu sama lain. Yasmin yang periang suka dengan Frans sejakkelas 4 SD, Nuril yang manja yang sering dipanggil Dek Lili, juga Nurul yang pemarah yang sering disebut Teh Lulu, dan Intan yang banyak mantannya.

“Eh, Tasya, tahu nggak? Aku punya cogan baru, lho! Tadi pas di jalan, aku nge-stalk dia dan ternyata dia sekolah di SMA Bintang Pelajar.”

“Hah, demi apa? Aku jadi pengen pindah, deh, ke SMA Bintang Pelajar,” ucap Tasya.

“Eh, hari ini jadi, kan, nengok Intan? Aku udah bawa mobil, nih,” lanjut Tasya.

“Jadi, dong. Aku juga udah bawa bingkisan dari mamaku,” ucap Nurul.

”Yaudah, masuk, yuk. Bentar lagi bel, nih!” ucap nuril.

Saat di koridor, cowok-cowok memperhatikan Tasya, Nurul, Nuril, dan Yasmin.

”Kenapa, sih, cowok-cowok pada ngeliatin kita begitu? Aku jadi ngga pede, nih,” ucap Yasmin.

“Udah, biarin aja. Biasa, fans yang tertunda hahaha,” ucap Nuril sambil tertawa.

Tasya, Yasmin, Nurul, Nuril, dan Intan memang sekelas. Tasya sendiri yang memintanya kepada sang ayah. Alasannya, suh, supaya mudah ketika ada pekerjaan rumah. Nyatanya, ia meminta teman-temannya ditempatkan di kelas yang sama dengannya supaya bisa melihat cogan di Instagram bersama-sama.

Saat pulang sekolah, Tasya bersama sahabat-sahabatnya langsung meluncur ke rumah Intan.

“Assalamualaikum, Intan. Sahabat-sahabatmu yang cantik ini ada di depan pintu rumahmu, lho! Kamu nggak mau keluar, Tan?” Suara cempreng Tasya terdengar begitu nyaring

“Kalian ngapain ke sini?” kata Intan setelah membuka kunci pintu, “Baru aja aku mau tidur siang. Padahal, besok aku udah masuk, lho, hahaha.”

“Intan nggak nyuruh tamu kamu yang cantik-cantik ini masuk apa?” ucap Nurul ketus.

“Ya Allah, Teh Lulu mah marah-marah aja. Nanti cepet tua lho,” ucap Intan sambal menoel pipi Nurul. Tasya, Nuril, dan Yasmin hanya senyum-senyum sambil menahan tawa mereka.

”Ayo, silakan, Tuan Putri masuk. Kalian langsung ke kamar aku aja, ya. Aku mau bikin minum dulu. Emak aku lagi ada bisnis soalnya. Biasa, mama aku mah suka sok sibuk,” ucap Intan sambil berjalan ke dapur untuk membuat minuman untuk para sahabatnya.

“Nih, minuman kalian. Tenang, sama aku nggak dikasih sianida, kok. Cuman dikasih racun tikus doang,” ucap Intan sambil berjalan ke arah Nurul, Nuril, Tasya, dan Yasmin yang sedang tiduran di tempat tidur Intan.

WHAT? Aku nggak mau minum minuman itu! Umur aku masih panjang. Aku masih pengen liat cogan-cogan. Nanti cogan-cogan aku pada sedih gara-gara nggak aku kepoin lagi,” ucap Tasya sambil cemberut.

“Yailah, Tasya. Kamu mah lebay. Ini asli, kok. Orang yang bikin bukan aku tapi mbok aku,” balas Intan.

“Yaudah, minumannya aku minum, ya,” ucap Tasya.

Setelah minum, mereka langsung bergosip ria tentang cogan-cogan yang ada di SMA Bintang Pelajar. Menurut mereka, cowok-cowok di SMA Nusa Bangsa jelek-jelek.

”Eh, Intan, kamu tahu nggak, sih? Masa di SMA Bintang Pelajar ada cogan baru tahu. Namanya siapa, deh, Yas?” ucap Nuril.

“Namanya Aldebra. Bagus, kan, namanya? Aku langsung jatuh hati. Tapi tetep, sih, hati gua hanya untuk Frans seorang walaupun dia udah punya pacar,” balas Yasmin dengan wajah yang langsung cemberut.

“Tenang, Yas. Gimana kalo besok kita ke SMA Bintang Pelajar? Sekalian cuci mata, kan?” usul Nurul.

“Iya, tuh, Yas. Bener, Yas. Mendingan besok kita ke SMA Bintang Pelajar aja. Kan besok aku udah mulai sekolah lagi,” ucap intan

”Yaudah, besok kita ke SMA Bintang Pelajar. Nanti aku bilang sama ayah aku supaya pulangnya dicepetin, hehehe. Aku juga besok bakal bawa mobil lagi. Tapi, kayaknya bakal pake mobil ayah aku, deh. Soalnya mobil aku yang sekarang lagi dipake mau di-service,” usul Tasya.

“Oke, deh. Eh, mendingan sekarang kita balik, yuk! Udah sore, nih. Mama aku nanti malem mau ke Prancis, hehehe,” ucap Nurul.

”Yaudah, balik, yuk. Tasya pulang duluan, ya, Tan. Inget, besok kita cuci mata, ya, hehehe,” ucap Tasya.

Pagi-pagi sekali Tasya sudah bangun dari mimpinya. Semalam Tasya bermimpi kalau dia dan sahabat-sahabatnya bertengkar entah kenapa. Sejak kecil, setiap kali dia memimpikan sesuatu, mimpinya akan terjadi di kehidupan nyata cepat atau lambat. Menurut orang tua Tasya, mimpi menjadi nyata hanya kebetulan belaka sedangkan menurut Tasya, hal itu adalah kelebihan yang diberi oleh Tuhan.

”Mom, tadi malam aku bermimpi Yasmin marah denganku. Aku takut kalo mimpiku menjadi kenyataan,” ucap Tasya sambil menyantap sarapannya.

“Sayang, kan, sudah pernah Mom bilang. Mimpi menjadi kenyataan hanyalah sebuah kebetulan. Itu nggak akan pernah terjadi, Sayang,” balas Ferisca.

”Aduh, anak Dad ini kenapa, sih, kok pagi-pagi udah muka galau aja? Apa gara-gara di-unfoll sama cogan-cogan kamu yang ada di Instagram lagi?” ucap Andrea sambil mengenakan dasinya.

“Jangan kayak gitu dong, Dad. Aku nggak mau cogan-cogan aku pada ninggalin aku. Udah, ah, aku berangkat sekolah dulu,” ucap Tasya.

“Eh, Dad, aku minjem mobil Dad, ya. Aku hari ini mau ke SMA Bintang Pelajar sama temen-temen buat cuci mata, hehehe,” lanjut Tasya.

“Yaudah, sana. Bye, Sayang. Hati-hati, ya, jangan ngebut-ngebut nyetirnya,” balas Andrea.

Tasya sudah sampai sekolah sejak tiga puluh menit yang lalu namun sahabat-sahabatnya belum juga datang. Setelah menunggu sepuluh menit lagi, keempat sahabatnya mulai terlihat.

“Kalian dari mana saja, sih? Aku menunggu sudah 30 menit lebih,” ucap Tasya dengan rasa kesalnya.

”Hehehe, maap, ya, Tasya. Tadi tuh nungguin Intan dandan. Masa tadi kita ke rumahnya dia belum bangun coba? Yaudah, deh, kita ceburin Intan ke bathtub,” ucap Nuril sambil melirik Intan.

Tasya hanya senyum-senyum saja sambil menahan tawanya sementara Nurul memasang wajah datarnya. Suara tawa Nurul terdengar begitu keras sedangkan sang korban, Intan, memasang raut wajah cemberut. Yasmin yang baru keluar dari kamar mandi karena ingin buang air kecil bergabung dengan mereka lalu ikut menertawakan kejadian tadi pagi.

“Eh, eh, jangan gangguin Intan. Kasian, tuh,” sela Tasya, “Oh ya, tapi hari ini jadi, kan, ke SMA Bintang Pelajar?”

“Jadi, dong,” jawab mereka serempak

”Oke. Aku udah bilang papaku buat nyepetin jam pulang sekolah kita. Papaku bilang, nanti kita akan dipulangin jam 12 siang. So, kita punya waktu istirahat 3 jam. Kita bisa santai-santai dulu. Papaku juga bilang kalo pemilik SMA Bintang Pelajar itu temen bisnisnya. Kita udah dapet izin langsung dari yang punya sekolah buat dateng,” jelas Tasya panjang lebar.

“Bagus. Kalo gitu kita jadi gampang, kan, masuk ke SMA Bintang Pelajar-nya? Emang setahu aku kalo masuk ke situ harus pake kartu nama atau nggak harus udah ada izin,” ucap Intan dengan semangat 45.

Bel pulang SMA Nusa Bangsa sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Sekarang Tasya, Yasmin, Nurul, Nuril, dan Intan berada di depan gerbang SMA Bintang Pelajar.

“Eh, ayuk, dong. Jangan dandan mulu. Kalian itu udah cantik, gak usah pake kayak gituan lagi,” bawel Tasya.

“Iya, bentar. Ini aku tinggal pake maskara, kok,” balas Intan.

“Ayuk, nanti keburu bel. Kalo bel duluan kita pasti nggak bakal ketemu sama tuh orang. Lagian juga aku, kan, nggak tahu di mana kelas tuh anak,” ucap Tasya dengan rasa kesalnya karena teman temannya terlalu lama berdandan. Bisa-bisa anak SMA Bintang Pelajar keburu pulang sekolah.

Tasya dan sahabat-sahabatnya sudah ada di lorong lorong kelas XII. Mereka tahu kalau Aldebra kelas 12 dari Instagram. Masalahnya, mereka tidak tahu letak kelas Aldebra dii mana.

“Eh, ini di mana, sih, kelas si Aldebra? Perasaan dari tadi nggak ketemu-ketemu, deh. Kita tuh udah muter-muter semua kelas 12 tapi nggak ada tuh yang mukanya mirip sama di Instagram,” ucap Tasya dengan sebal. Sudah lama menunggu teman-temannya berdandan, sekarang mencari sosok cogan di Instagram pun tidak kunjung ketemu.

“Nggak tahu, ah! Aku kesel sama kalian berempat. Aku mau ke toilet aja,” lanjut Tasya.

Bel berbunyi sejak lima menit yang lalu. Tasya sedang berlari mencari teman-temannya. Saking fokusnya mencari teman temannya, tak sengaja Tasya bertabrakan dengan seseorang.

“Awww,” terdengar suara mengeluh Tasya.

“Kalo jalan bisa liat-liat nggak, sih? Kalo jalan itu pake mata, bukan pake dengkul!” gerutu Tasya dengan mata yang sedang memperhatikan dengkulnya yang memerah.

“Bukannya kalo jalan itu pake kaki, ya? Justru saya yang seharusnya bilang kayak gitu,” ucap seseorang yang telah menabrak tubuh Tasya hingga pantatnya mencium lantai SMA Bintang Pelajar itu.

Saat tasya mendongakkan kepalanya, dia terkejut dengan wajah pria tersebut.

Asli, nih, cowok ganteng banget! Udah mah kulitnya kuning langsat, hidungnya mancung, tinggi, bibirnya manis, alisnya tebel. Subhanallah sekali ciptaanmu ini ya Allah

“Kamu ngapain, sih, ngeliatin saya kayak gitu? Saya bingung, deh. Saya mengakui kalo saya itu ganteng. Tapi nggak gitu juga kali ngeliatinnya,” ucap cowok itu dengan alis diangkat sebelah.

“Kenalin, saya Barack Alexander Nugroho. Saya Ketua OSIS SMA Bintang pelajar. Kamu ngapain di sini? Setahu saya, seragam SMA ini tuh nggak kayak gini. Kamu dari SMA mana?” tanya Barack.

Tasya tidak berkutik karena masih mengagumi ketampanan sosok di depannya. Ia tersadar kembali setelah sahabat-sahabatnya menghampiri dan menepuk pundaknya.

Sebenarnya, Yasmin dan kawan-kawannya sudah tahu siapa cowok yang berada di depan Tasya. Dia adalah temannya Nuril sewaktu TK. Hanya Tasya saja yang tidak mengetahuinya. “Eh, Barack. Barack, kan, temen TK aku. Ya Allah, nggak nyangka banget, ya, kita bakal ketemu lagi,” ucap Nuril dengan antusias.

“Iya. Kamu Nuril, kan? Dan yang di sebelah kamu Nurul, kan?” tanya Barack.

“Iya. Kamu masih hapal aja,” balas Nuril.

“Eh, Guys, kita balik, yuk, udah sore. Makin lama makin rame nih sekolah. Aku juga males ngeliat muka orang ini. Udah ngedorong, nggak minta maaf lagi,” ucap Tasya sambil melirik Barack dengan sinis.

Barack terlihat biasa saja. Ia cenderung tertarik bahkan. Menurutnya, Tasya berbeda dengan cewek-cewek yang lain. Tasya pergi begitu saja sedangkan teman-temannya tetap berbincang dengan Barack.

“Eh, saya boleh minta nomer kalian nggak? Sekalian sama temen kalian yang tadi pergi gitu aja,” pinta Barack antusias.

“Boleh, kok. Ini nomorku,” balas Yasmin antusias.

“Oke. Nanti saya chat kalian, ya. Jangan lupa di-save back,” ucap Barack.

“Iya, Barack,” ucap Yasmin, Nurul, Nuril, Intan dengan antusias.

“Eh, tadi ganteng banget, ya, si Barack? Alisnya tebel banget. Tapi, ya, kata orang-orang mah dia itu super dingin parah. Kataku, sih, enggak, hehehe,” bawel Yasmin.

“Nurul, Nuril nanti deketin aku, ya, sama Barack. Aku pengen lupain Frans, hehehe,” lanjut Yasmin.

“Bagus, tuh, Yas. Kamu nggak bosen apa suka sama tuh cowok terus?”

“Yaudah nanti aku kenalin.”

Hari ini Tasya pergi sekolah diantar oleh papanya. Andrea ingin melihat perkembangan sekolah yang didirikannya dengan penuh perjuangan.

“Kalian ke mana aja, sih? Aku nungguin kalian dari tadi,” gerutu Tasya.

“Ya, maaf, Tas. Biasa tuh Intan. Dandannya lama,” ucap Yasmin dengan santainya

“Ih, aku gak dandan tahu,” ucap Intan sambil cemberut.

“Eh, eh, tahu nggak, sih? Masa semalem Barack chat aku. Aku seneng banget meskipun isi chat-nya cuman minta save back,” ucap Yasmin dengan wajah berseri-seri.

“Iya, deh, iya, yang otw pedekate sama Barack. Daku mah apa atuh yang jomblo,” ucap Tasya.

Tasya sampai rumah pukul 5 sore karena sebelum Tasya pulang ke rumah, ia mengantar teman-temannya dulu. Tiba-tiba, ada notifikasi WhatsApp di layar ponselnya.

Save back, ya.

Ini siapa?

Masa kamu nggak kenal, sih?

Ya, emang nggak kenal.

Ini Barack. Cowok ganteng yang kemaren kamu kagumin sampe gak kedip.

Oh, Barack yang waktu itu ngedorong sampe jatuh.

Hehehe, maaf, ya.

Santuy.

Hanya itulah obrolan singkat Tasya dengan Barack. Sebenarnya, Barack punya banyak topik untuk dibicarakan. Hanya saja, Barack gengsi karena biasanya Barack di-chat oleh banyak perempuan. Sekarang Barack yang memulai pergerakan terlebih dahulu. Sepertinya, cowok ganteng itu tertarik dengan Tasya.

Sejak kemarin, Tasya pergi ke sekolah bersama ayahnya sehingga ia sudah berada di sekolah sejak pukul 6 pagi. Sebenarnya, Tasya ingin sekali menceritakan perihal Barack ke sahabat-sahabatnya. Namun, ia mengurungkan niatnya karena merasa tidak enak dengan Yasmin.

“Tasya, yuhuuu~” ucap Yamsin, “Tahu nggak, masa pas malem Barack nge-chat aku lagi. Katanya, kapan mau ke sekolahnya dia lagi? Terus, ya, aku baru tahu kalo ternyata Barack suka banget baca baca novel kayak aku,”

“Barack juga ternyata hobinya juga sama kayak aku, Tas,” lanjut Yasmin dengan antusias. Hobi Yasmin adalah bermain badminton yang berarti hobi Barack juga adalah bermain badminton.

“Oh, ya? Terus apa lagi?” balas Tasya. Sejujurnya, Tasya malas mendengar kata Barack karena Tasya takut terjebak dalam pesona Barack yang ganteng itu.

“Ya gitu, deh. Aku chat sama dia sampe jam 11 soalnya aku disuruh tidur,” ucap Yasmin.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu tapi kelas Tasya belum juga keluar. Biasa, guru killer suka lupa waktu. Dua puluh menit kemudian, Tasya baru keluar dari gerbang sekolahnya.

Hari ini Tasya berniat untuk pulang menggunakan ojek online. Pada saat Tasya menunggu pesanan ojeknya datang, tiba-tiba ada motor ninja berhenti tepat di depannya. Saat pria yang mengendarai motor tersebut membuka helmnya, betapa terkejutnya Tasya saat melihat wajah Barack. Untung saja teman-temannya sudah pulang lebih dulu.

“Barack ngapai ke sekolahan aku?”

“Aku mau jemput Tasya. Aku pengen tahu rumah Tasya di mana,” balas Barack sambil mengenakan helmnya lagi.

“Yaudah, buru, naik,” lanjut Barack.

Degan seribu cara, Barack berhasil membujuk Tasya untuk pulang bersamanya sedangkan pesanan ojek online-nya dibatalkan oleh Tasya. Tasya memberitahukan jalan ke arah rumahnya. Memang, rumah Tasya dengan sekolahnya agak jauh. Hal itu ternyata disengaja supaya Tasya mendapatkan uang jajan lebih banyak. Tasya diantar Barack sampai depan rumahnya. Tidak lupa Tasya mengucapkan terima kasih kepada Barack karena sudah mengantarnya sampai depan rumah walaupun itu dengan paksaan.

Keesokan harinya, Tasya pergi ke sekolah menggunakan mobilnya karena mobilnya sudah di-service. Tetapi hari ini Tasya tidak menjemput teman-temannya karena sekarang sudah pukul setengah 7 yang artinya Tasya sudah telat. Ia masih harus menempuh empat puluh lima menit lagi.

Tanpa Tasya ketahui, ada yang sudah menunggu Tasya di depan gerbang rumahnya. Tasya terkejut melihat Barack di depan rumahnya.

“Kamu ngapain di depan rumah aku?” ucap Tasya.

“Ya, mau jemput kamulah. Masa mau jemput mama kamu?”

Ucap barack sambil senyum-senyum.

Tasya bosan melihat muka Barack. Entah kenapa setiap Tasya melihat Barack, Tasya selalu ingin marah marah. Tasya risih dengan adanya Barack.

Dengan segala cara, Barack berhasil pergi ke sekolah dengan Tasya. Walapun jarak dari sekolah Barack dan sekolah Tasya lumayan jauh, bagi Barack bukan masalah. Barack selalu yakin pasti Barack bisa menaklukan hati Tasya. Tasya memang susah suka dengan cowo mana pun.

Sesampainya Tasya di depan gerbang, Tasya terkejut melihat sahabat-sahabatnya yang sedang berada di depan parkiran sambil melihat Tasya dengan tatapan yang tidak seperti biasanya, terlebih tatapan Yasmin. Tatapan Yasmin kepada Tasya seperti mata marah, sedih, kecewa.

Saat Tasya ingin menghampiri sahabat-sahabatnya, Yasmin malah pergi berlari diikuti oleh teman-temannya. Tasya sampai lupa mengucapkan terima kasih kepada Barack karena sudah mengantarnya sampai depan sekolah.

Tasya sudah sampai di ruang kelasnya tetapi Tasya tidak melihat sahabat-sahabatnya. Tasya langsung menaruh tasnya dan segera mencari teman-temannya.

Tasya melihat sahabat-sahabatnya di taman dekat kantin. Saat Tasya sedang menghampiri teman-temannya, Yasmin melihat Tasya berjalan ke arahnya dan Yasmin segera berlari melewati Tasya.

“Tas, kami kecewa sama kamu. Tasya tahu, kan, kalo Yasmin suka sama Barack? Tapi kenapa kamu malah gitu sama Yasmin?” ucap Intan. Sahabat-sahabat Tasya meninggalkan Tasya begitu saja. Sebenarnya Tasya sedih melihat teman-temannya

Seminggu sudah lewat. Tasya dan sahabat-sahabatnya masih saling berdiam-diaman. Tasya dan Barack juga selalu berangkat dan pulang bersama. Tasya selalu bilang pada Barack untuk menghubungi Yasmin. Namun, Barack tidak mau karena dirinya memang tidak menyimpan rasa untuk sahabat Tasya itu. Sebenarnya, bagi Tasya bukan masalah suka atau tidak. Tasya merasa tidak enak dengan sahabatnya karena sejauh yang ia tahu, sahabatnya itu menaruh perasaan spesial untuk Barack.

Saat Tasya menyapa sahabat-sahabatnya di sekolah, mereka selalu membuang muka dan bodohnya Tasya selalu berpikir positif.

Mungkin mereka tidak lihat aku. Aku samperin aja kali, ya? batin Tasya.

Namun, saat Tasya menghampiri mereka, mereka malah pergi begitu saja.

Bagi Tasya, sahabat-sahabatnya melebihi apa pun. Bahkan, jika Tasya disuruh memilih, ia akan memilih sahabat-sahabatnya.

Saat pulang sekolah, Tasya langsung bergegas pergi keluar dan memesan ojek online. Tasya tidak mau diantar dan dijemput lagi oleh Barack. Tasya tidak mau Yasmin lebih marah pada dirinya. Untungnya, pada saat keluar gerbang, pesanan ojek online Tasya langsung datang.

Pada malam harinya, Tasya berpikir untuk menanyakan apakah Yasmin marah kepadanya.

Yas.

?

Kamu marah sama aku?

Nggak, cuman kecewa doang

Oh

Y.

Kecewanya kenapa?

Maaf, ya, tapi aku kecewa sahabat aku sendiri udah nikung aku. Di saat aku udah ikhlasin Frans, sekarang kamu malah deket sama Barack. Kan Tasya tahu kalo Yasmin suka sama Barack. Tapi Tasya kenapa gitu sama Yasmin?

Istilahnya, dikasih jantung malah minta hati.

Maaf, ya, kata-katanya rada menohok.

Biar kamu tahu aja unek-unek aku kenapa aku diem selama ini. Aku lebih baik diam daripada memperpanjang. Tapi, kamu juga harus tahu dan coba lebih peka sama sekeliling kamu. Yang punya perasaan bukan cuma kamu doang.

Itulah pesan singkat dari Yasmin. Sebenarnya, Tasya memang tidak mengerti permasalahan ini karena prinsip Tasya adalah dia tidak akan meminta maaf karena dia tidak mersa bersalah.

Keesokan harinya, Barack kembali menjemput Tasya di depan gerbang rumahnya. Tetapi, Tasya menolaknya. Barack yang pantang menyerah terus membujuk Tasya.

“Ayo, dong, Tas, berangkat bareng sama Barack,” pinta Barack dengan sangat.

“Nggak, Barack. Nanti Yasmin marah,” balas Tasya.

Tasya meninggalkan Barack begitu saja. Sebenarnya, Tasya juga kasihan dengan Barack. Tapi mau bagaimana lagi? Sekarang, Tasya dan sahabat-sahabatnya seperti perang dingin.

“Kalian kenapa, sih, sama Tasya?” tanya Tasya sedih.

“Kita nggak kenapa-kenapa, kok, Tas. Kita cuman kecewa aja sama Tasya,” ucap mereka

Sejujurnya, Tasya tidak suka dengan orang yang apabila marah dengan dirinya, tidak menjelaskan dengan lengkap. kalo marah dengan Tasya orang itu selalu jawab dia ngga marah sama Tasya tetapi hanya kecewa.

Tasya merasa hidupnya hampa selama sebulan. Tasya tidak mengobrol dengan sahabatnya. Barack jugasemakin mendekati Tasya dan dengan bodohnya, Tasya tidak pernah menolak. Bahkan, Tasya pernah nonton berdua dengan Barack.

Malam ini, Tasya penasaran mengapa teman-temannya marah dengan dirinya. Ia pun mengirimkan pesan kepada mereka.

Kalian kenapa sama aku? Kalo aku ada salah, bilang. Jangan diem-dieman kayak gini. Katanya sahabat.

Aku mau ngeluarin unek-unek.

Terserah kalo misalnya kita mau baikan, mau bubar, mau lanjut diem-dieman, atau mau akur lagi kayak dulu.

KALO MAU CHAT INI DIBACA DOANG GAK APA-APA.

Aku cuman mau bilang, aku tahu, kok, kita sama-sama salah. Tapi, boleh aku keluarin unek-unek aku, kan?

Kenapa, sih, selama ini kalian diemin aku?

Pesan baru masuk dan jawaban selanjutnya membuat Tasya tersentak.

Selama ini aku nggak ngerasa dihargain sama kamu. Nggak aku doang. Nurul, Nuril, Intan juga ngerasa kecewa sama sikap kamu. Makanya, dari kemaren kami jauhin kamu karena kami saling ngeluarin unek-unek satu sama lain. Nggak ada niatan buat ngasingin kamu.

Kami ngerasa, kami yang dikecewain tapi malah kami juga yang ngerasa gak enak.

Kamu bisa dengan mudahnya cuma baca pesan dari aku dan temen-temen. Kamu tahu, kan, prinsipku? Aku memperlakukan orang lain sama dengan mereka memperlakukan aku.

Inget, nggak ada yang ngelarang kamu suka sama Barack, tapi maaf.

Sikap kamu NUSUK.

Itulah pesan dari Yasmin. Tasya masih tidak bisa berpikir salah Tasya terhadap mereka apa sampai-sampai Tasya tidak bisa tidur karena memikirkan soal ini.

Keesokan harinya, Tasya bangun dengan mata yang sembab. Ya, Tasya semalam habis nangis karena ia tidak mau persahabatannya hancur gara gara cowok.

“Mah, mimpi Tasya terjadi lagi. Yasmin marah sama Tasya,“ ucap Tasya dengan wajah menunduk.

“Sayang, masalah dalam persahabatan itu sudah biasa. Apalagi kalo masalah hati. Dulu, Mama juga seperti itu tetapi jodoh itu sudah ada yang ngatur. Sekarang, kamu mendingan tanya langsung sama mereka. Atau gak, kamu minta maaf aja ke dia. Siapa tahu dia emang lagi kesel sama kamu, Sayang,” ucap Ferisca.

“Yaudah, deh, aku berangkat dulu, ya,” ucap Tasya sambil salim ke mamanya.

Sesampainya Tasya di sekolah, ia langsung mencari teman-temannya. Tapi, Tasya tidak menemukan mereka. Memang, sih, ini masih pagi. Belum banyak siswa dan siswi yang datang ke sekolah.

Tasya dengan Barack? Tasya sudah menceritakan masalahnya ke Barack dan meminta Barack untuk menjauhkan Tasya sambil memohon-mohon. Barack bilang, walaupun Barack akan jarang bertemu dengan Tasya, Barack dan Tasya akan menjadi sahabat yang baik. Kalau bisa, mereka ingin menjadi sahabat selamanya. Tasya sangat menyukai sisi Barack yang satu ini. Barack selalu menerima keputusan seorang perempuan dan selalu menghargainya. Saat bel masuk, Tasya baru saja melihat sahabat-sahabatnya.

“Kalian,” sapa Tasya tidak lupa dengan senyumannya, “Emang aku salah apa sama kalian. Yaudah, sekarang aku cuman mau minta maaf ke kalian yang sebesar-besarnya dan maafin aku juga, ya, kalo aku ada sala. Sejujurnya aku nggak tahu salahku apa tapi aku nggak tau harus apa sama kalian. Aku pengen persahabatan kita utuh lagi,” lanjut Tasya.

“Ya, maafin aku juga kalo gua ada salah. Aku juga sebenernya udah kangen kita utuh lagi. Tapi gua pengen ada kesadaran dari satu sama lain. Aku bisa nerima semuanya kalo kita sama sama ngeikhlasin. Maaf, ya, semua jadi panjang urusannya,” ucap Yasmin.

“Jadi, kita baikan, nih?” tanya Intan sambil senyum-senyum.

Tasya, Yasmin, Nurul, dan Nuril ikut tersenyum.

“Asiiik, pelukan, dong,” ucap Intan sambil merentangkan tangan. Akhirnya, mereka bisa akur kembali.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.