Putri Ayu Aulia Salsabila

Kata orang, pertemuan adalah kabar. Tapi menurut Ambar, pertemuan adalah awal dari kehancuran. Ambar, seorang gadis yang ditinggalkan ayahnya saat ia masih di dalam kandungan. Empat belas tahun berlalu. Sekarang Ambar tumbuh menjadi remaja yang mandiri. Ibu Ambar pun sudah menikah kembali. Sekarang ia cukup bahagia karena ada sosok pengganti ayah di hidupnya.

Namun, kebahagiaan itu terhenti saat ayah kandung Ambar mengusik keluarga kecil mereka. Ayah kandungnya sering bertemu ibu Ambar di luar rumah tanpa sepengetahuan ayah tirinya. Semenjak itulah sikap ibu kepada ayah tiri Ambar berubah tidak seperti biasanya. Bahkan, keributan-keributan pun kerap kali terjadi di keluarga Ambar hingga akhirnya ibu dan ayah tirinya memutuskan untuk berpisah.

Sekarang Ambar mengerti mengapa ayah tirinya marah besar. Beberapa kali, ibu mengajak Ambar untuk bertemu ayah kandungnya. Awalnya Ambar senang karena bisa bertemu dengan ayah kandungnya. Akan tetapi, lama-lama Ambar sadar bahwa awal dari pertemuan bersama ayah kandungnya ternyata menjadi kehancuran dalam keluarga baru Ambar. Tidak hanya keluarganya saja yang hancur, perasaan Ambar pun turut hancur. Baru saja kebahagiaan berpihak kepadanya, tetapi ada saja yang merusaknya. Ambar benci ayah kandungnya.

Kerap kali ibu Ambar menasihatinya bahwa sebenci-bencinya Ambar terhadap ayah kandungnya, tetap saja itu ayahnya. Tapi apakah ibu Ambar mengerti bagaimana perasaannya sekarang? Ambar tertekan di keadaan seperti ini. Saat orang yang ia sayang pergi–walaupun bukan ayah kandungnya–lalu datang orang baru yang mengaku ayah kandungnya. Selama ini lelaki itu kemana? Nafkah sama sekali belum dirasakan oleh Ambar dan ibunya. Ambar belum bisa menerima orang itu, tetapi ibunya menerima dengan senang hati.

Keadaan Ambar dan ibunya pun sedang tidak baik-baik saja. Ibu Ambar yang bekerja seharian penuh dan jarang ada waktu untuk Ambar menyebabkan ia dan ibunya semakin jauh. Komunikasi jarang dilakukan keduanya. Ingin rasanya Ambar mencurahkan semua isi hati kepada ibunya, namun ia urungkan karena ibu Ambar selalu disibukkan dengan handphone-nya.

Semenjak ibu Ambar berpisah dengan ayah tirinya, ibu Ambar berubah dan tidak sehangat dulu. Dan sepertinya, ibu Ambar menjalin hubungan kembali dengan ayah kandung Ambar. Ia tidak paham dengan jalan pikiran ibu. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah meninggalkan keluarga kecilnya belasan tahun tanpa memberi nafkah, tanpa komunikasi sebelumnya, tiba-tiba muncul di hadapan keluarga baru Ambar. Dia hanya meminta maaf atas kesalahan di masa lalu dan ibu menerimanya kembali. Apakah itu semua bisa diterima? Mungkin maaf masih bisa diterima. Akan tetapi, perlakuannya di masa lalu membuat Ambar sakit.

Betapa menyedihkan hidupnya dulu. Hidup tanpa ayah dan ibunya harus bekerja membawa Ambar. Belum lagi celotehan para tetangga yang berasumsi bahwa Ambar adalah anak yang tidak diinginkan. Ambar tidak mau jika kejadian dulu terulang kembali pada ia dan ibunya. Tapi semua keputusan ada di tangan ibu. Jika ibu mau rujuk bersama ayah kandung Ambar, lalu Ambar bisa apa? Ambar hanya berdoa agar ketakutannya tidak jadi nyata.

Kali ini Ambar resah. Ayah kandungnya datang kembali ke rumah dan mencari ibunya. Ibunya belum pulang dan mengharuskan Ambar menemaninya sampai perempuan paruh baya itu pulang. Ambar sebetulnya malas menemani, bahkan menyuruh ia masuk pun enggan. Ambar sudah malas berurusan dengan ayah kandungnya karena ia adalah penghancur kebahagiaan Ambar.

Hanya keheningan yang ada di dalam rumah Ambar kali ini. Tidak ada yang membuka suara antara ayah dan anak itu. Sampai akhirnya ayahnya membuka suara.

“Mengapa kamu berubah, Nak?” tanya ayahnya lembut.

“Jelas saya berubah,” jawab Ambar singkat.

“Apa yang membuatmu berubah?” Ayahnya bertanya sekali lagi.

“Anda,” ucapnya sambil mengalihkan pandangan.

“Apakah kamu tidak puas? Bukankah kamu tahu bahwa saya telah meminta maaf kepada kamu dan ibumu saat itu?”

“Apakah maaf itu cukup untuk mengembalikan semuanya? Setelah yang Anda lakukan pada saya dan ibu di masa lalu, merebut kebahagian keluarga kecil yang baru ibu bangun? Apakah dengan semua kata maaf yang keluar dari bibir Anda itu cukup untuk melupakan segalanya? Apakah cukup? Tidak sama sekali!

Asal Anda tahu kalau sekarang saya menderita kembali karena Anda! Setelah 14 tahun lalu Anda meninggalkan kami, lalu datang kembali merusak kebahagiaan kami, apakah Anda masih pantas di sini untuk mengharapkan ibu kembali pada Anda?

Ke mana saja Anda selama ini? Baru ingatkah Anda mempunyai anak dan istri yang Anda tinggalkan 14 tahun lamanya? Di mana rasa tanggung jawab Anda sebagai seorang ayah? Aku rasa ibu terlalu dibutakan oleh cinta!” ucap Ambar bergetar. Sesungguhnya dia tidak ingin berbicara tentang opininya ini, tapi itu semua sudah terlanjur diucapkan Ambar.

Ayah kandungnya bergerak maju mendekati dan mencengkram pipi Ambar sekuat-kuatnya. Ayah Ambar tidak terima jika anaknya berbicara tentang masa lalunya itu. Ayah Ambar sadar bahwa ia salah, tapi ia pun sudah meminta maaf kepada Ambar dan Ibunya.

“Saa… kiiittt… “ ucap Ambar meringis.

“Cukup! Lepaskan anak saya!” Bentak ibu Ambar yang muncul dari balik lemari–batas antara ruang tamu dengan ruang keluarga. Ibu Ambar berlari memeluk anaknya yang menangis. Sedangkan ayah Ambar? Ia sangat terkejut dengan kedatangan mantan istrinya itu.

“Mas, semua yang dikatakan Ambar itu benar. Perihal aku yang dibutakan oleh cinta kamu pun itu benar adanya. Selama ini aku yang mencintai kamu sepenuh hati sedangkan kamu mencintai beberapa wanita lain di luar sana.

Bahkan, kamu sudah punya anak, kan, dari wanita lain? Yang usianya sama dengan anakku? Sebaiknya sekarang kamu pergi dan tinggalkan kami saja! Kami tidak butuh kamu lagi, Mas. Biarkan yang lalu berlalu dan aku mohon kamu jangan pernah kesini. Apa lagi untuk menyakiti anakmu sendiri,” ucap ibu Ambar dengan tegas.

“Aku bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” kata ayah Ambar.

“Tidak ada lagi yang harus dijelaskan kepadaku, Mas. Silakan sekarang Mas pergi.”

“Baiklah, aku akan pergi. Jaga anak kita. Maaf atas perlakuanku selama ini kepada kalian. Aku pamit,” ucap Ayah Ambar sembari berjalan keluar rumah.

Tangis ibu Ambar pun pecah saat ayah Ambar menghilang dari pandangan. Ibu Ambar mendengar semua yang Ambar ucapkan kepada ayahnya. Sungguh, ibunya merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan, kadang Ambar terlupakan hingga ia tidak tahu apa yang Ambar rasakan.

“Maafkan Ibu, Nak, belum bisa menjadi Ibu yang Ambar inginkan. Maafkan Ibu yang selalu mengabaikan Ambar,” ibu Ambar memeluk anaknya dan menangis.

“Ti… da.. k.. apa, Bu.. aku sudah me.. maafkan semuanya.. hiks… hiksss,” jawab Ambar sambil sesegukan.

“Ibu janji akan menjadi Ibu yang lebih baik untuk Ambar dan selalu ada untuk Ambar,” ucap Ibu Ambar sembari mengecup kening anaknya itu.

“Jan… ji?” Ambar terbata-bata dan mengangkat jari manisnya pertanda janji.

“Janji!” jawab ibunya sambil menautkan jari manisnya. Keduanya pun tersenyum.

Ambar senang sekarang. Ibunya sudah seperti dulu lagi. Menjadi ibu yang hangat dan peduli kepada Ambar. Sekarang pun ibu Ambar menikmati kesendiriannya. Katanya ingin fokus mengurus anak gadis semata wayangnya ini.

Akhirnya kebahagiaan kembali menerpa Ambar dan ibunya meskipun kurang lengkap karena tidak figur ayah. Tapi tidak apa. Dengan seperti ini, kasih sayang ibu kepada Ambar tidak terbagi lagi. Ya, meskipun ibu Ambar sesekali merasa kesepian. Jika ini adalah bahagia, maka Ambar tidak mengapa. Ibunya ikhlas melakukannya apapun demi anak semata wayangnya.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.