Risqi Ananda

Hembusan angin pagi merasuki tubuhku. Hari ini adalah hari pertama masuk ke sekolah baru. Hanya satu yang aku harapkan, jangan sampai ada yang menindasku. Derap langkahku terhenti setelah tiba di depan gerbang. Sayang sekali ibu tidak bisa menemaniku di hari pertama.

Aku masuk. Mataku gencar, tanda sedang mencari. Ibu menitip pesan, setelah sampai di sekolah, aku harus bertemu dengan Bu Yayah. Ia yang akan mengantarku ke kelas dan mengenalkanku kepada teman-teman baru. Aku bingung dan memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang guru.

“Permisi, Bu, saya mau tanya. Apa ibu kenal Bu Yayah?”

Guru yang aku tanya memperhatikanku dari atas kepala hingga ujung kaki. Entah apa yang ia pikirkan.

“Kamu Martha?” tanya guru tersebut, yang langsung saja aku jawab .

“Ya, Bu.”

“Saya Bu Yayah. Ayo sekarang kamu ikut dengan ibu,” jelas guru itu yang ternyata adalah Bu Yayah.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Bu Yayah langsung mengarahkan ke kelas.

“Ini adalah kelasmu. Kamu boleh masuk. Ibu duluan, ada urusan mendadak. Salam untuk ibumu,” ucap Bu Yayah.

“Ya, Bu. Terima kasih,” jawabku.

Terdengar suara bising dari dalam kelas. Aku pun mengetuk pintu kelas itu dan membukanya. Sejenak suara bising itu hilang. Semua pandangan tajam tertuju padaku. Aku gemetar setengah mati, jantungku berdegup kencang, tubuhku berkeringat. Waktu seakan terhenti begitu saja. Seorang murid menghampiriku dan berkata,

Au Sihol, ho?”

Pertanyaan itu memecah keheningan. Aku tidak mengerti apa yang ia katakan dan bahasa apa yang ia gunakan. Aku hanya bisa terdiam dan menunggu. Barangkali, ada dari mereka yang mengajakku bicara dengan bahasa yang aku pahami.

“Kamu nggak ngerti?” tanya murid itu. Aku hanya menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa aku memang tak mengerti. Tiba tiba, ada seorang murid lagi menghampiriku.

Kuduna, kamu teh pake basa Indonesia, pan anjeuna moal ngartos.”

Abdi… ehhh maksudnya saya Ule. Kamu siapa?” Tanya murid yang bernama Ule. Aku menjawabnya dengan senyuman yang lebar.

“Aku Martha,”

Kring, kring. Bel masuk berbunyi,

“Yah, ora iso kepo,” ucap murid lain yang juga ada di kelas itu.

“Kamu mau duduk di mana?” tanya Ule kepadaku.

“Belum tahu,” jawabku dengan rasa ragu.

Lamun kitu, kamu duduk sama aku ajah. Gimana?” ajak Ule dan aku jawab dengan anggukan kepala.

Seorang guru masuk ke dalam kelas. Guru itu adalah Bu Yayah.

“Kamu tahu nggak siapa guru itu?” tanya Ule kepadaku.

”Ya, itu Bu Yayah yang tadi mengantarkanku ke kelas ini,” jawabku.

“Dia adalah guru Bahasa Indonesia di sini.”

“Owh…”

“Hari ini kita kedatangan murid baru. Dia berasal dari Papua. Martha, ayo kedepan dan perkenalkan diri,” ucap bu Yayah.

Akupun mengikuti arahan Bu Yayah dan berjalan ke depan kelas. Sontak semua bertepuk tangan. Aku jadi lebih semangat memperkenalkan diri.

“Halo semuanya! Namaku Martha Rodes Simbiak, biasa dipanggil Martha. Asalku dari Papua.”

Setelah aku memperkenalkan diri, ada murid yang tiba-tiba berteriak.

“Pantes kaya arang, hahahahahaha!” diikuti tawa seluruh kelas.

“Lela, apa maksud kamu?” ucap Ule mencoba mendukungku.

“Nggak usah pura-pura nggak ngerti. Nggak lihat kulitnya? Memang kaya arang kan?” jawab Lela dengan nada mengejek.

“Sudah. Kalian jangan bertengkar. Martha, ibu berharap kamu betah di sini. Sekarang kamu boleh kembali ke tempat duduk,” perintah Bu Yayah.

Lela pun mulai mengoceh, “Cepet-cepet lah lu keluar dari sini.”

Perkataan Lela begitu melekat dalam pikiranku sehingga aku sedikit termenung.

“Omongan Lela jangan diambil hati. Dia orangnya emang gitu, nyebelin,” Ule mencoba menghiburku.

Waktu istirahat pun tiba. Ule dan dua orang murid yang belum kukenal menghampiriku. Mereka berdua memperkenalkan diri kepadaku sehingga aku mendapatkan teman baru lagi.

“Halo, au Sihol. Maksudnya, aku Sihol. Hehehe. Maaf ya soal tadi pagi, pasti ho bingung.”, aku pun mengangguk sambil tersipu malu.

And of course, aku Arma. Aku ini bule lho.”

“Arma, anjeun lain bule.”

You jangan sok tau gitu ya. I call my boyfriend baru tau rasa.”

”Memang boyfriend ho siapa?”

“Justin Bieber.”

“Maklumin we nya, da si Arma mah ngahalu wae,” bisik Ule kepadaku.

“Ok, kita nggak usah banyak cingcong lagi ya. Cus go to kantin, huhu!”.

Kami pun pergi ke kantin bersama sama

“Aduh, uangku tertinggal di kelas. Aku ke kelas dulu ya, nanti aku balik lagi,” Ucapku yang dijawab serentak oleh mereka “Ok”. Aku berlari kecil menuju kelas. Saat aku sedang mengambil uang di tas, Lela dan teman temannya memanggilku.

“Arang, sini!” Aku menghampiri Lela walau sesungguhnya ragu.

“Lu, ikut kita,” ajak Lela.

“Ke mana?”

Tanpa menjawab pertanyaanku, salah satu dari mereka menarik tanganku. Mereka berhenti di depan sebuah ruangan.

“Lu disuruh Bu Yayah ngambil kertas biodata di sini. Cepetan cari!”

Akupun masuk ke ruangan itu dan mulai mencari. Ruangannya gelap dan kotor seperti gudang.

“Lela, kertasnya dimana? Aku nggak nemu.”

“Udah ya, lu disini aja dah.” Lela pun menutup dan menguci pintu ruangan dan meninggalkanku di dalamnya. Aku mengetuk-ngetuk pintu, berharap ada seseorang yang bisa menolong.

Aku tidak tahu berapa lama aku terkunci dan hanya bisa menangis tanpa henti. Aku sesekali berteriak minta tolong tapi tak kunjung ada jawaban. Tiba tiba saja terdengar suara seseorang sedang membukakan pintu yang terkunci.

Syukurlah, akhirnya pintu ini terbuka,” ucapku dalam hati penuh kegirangan.

Ternyata yang membukakan pintu adalah Bu Yayah. Aku langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ule memelukku begitu erat dan menanyakan keadaanku. Lela dan teman-temannya berdiri di belakang Bu Yayah. Lalu, satu persatu dari mereka menghampiriku.

“Maafkan kami karena telah menguncimu di gudang ini,” ucap Lela.

“Aku udah maafin kalian kok, tapi aku mohon jangan lakuin itu lagi yah,” jawabku. Aku masih merasa ketakutan. Ule dan Arma mengusap punggungku mencoba menenangkanku.

Kata Bu Yayah, ada seorang murid yang melapor kepadanya sepulang sekolah bahwa aku dikunci di gudang oleh Lela dan teman-temannya. Lalu, Bu Yayah segera memanggil Lela dan teman-temannya untuk membukakan pintu gudang serta mengakui perbuatan mereka. Ule dan teman-teman lain yang sedang mencariku tak sengaja mendengar hal itu sehingga memutuskan untuk ikut ke gudang.

Lela dan teman-temannya menyesal atas perbuatan mereka dan berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut. Beruntungnya aku, memiliki teman seperti Ule, Sihol, dan Arma yang perhatian kepadaku.

Dari hari itu, aku merasa lebih percaya diri dan tidak lagi insecure atas keadaan fisik yang kumilki. Tidak lain dan tidak bukan karena pertemanan hangat yang dijalin bersama Ule, Sihol, dan Arma. Sekarang, tidak ada lagi yang namanya penindasan karena teman-teman di kelas jadi saling menghargai perbedaan. Aku yang dulunya terasingkan, kini aku dikelilingi orang-orang yang sangat berarti. Terima kasih atas segala yang telah kalian berikan padaku. Semua tidak akan ada gantinya.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.