Segala Sesuatu Libatkan Allah

Hasna Malikatusilfa

Hujan ini seakan memberiku sebuah renungan. Kertas-kertas ujian, terbayang di benakku seakan menjadi hantaman palu di kepalaku. Dahiku menyerngit, kupijit perlahan pelipisku untuk meredakan pusing. Kembali kulihat kertas ujian Kimia perdanaku di kelas sebelas, yang menunjukkan rentetan soal materi favoritku. Hidrokarbon dan isomer-isomer apalah itu.

Angka merah yang tertera di pojok kanan atas kertas itu membuat kepalaku semakin berdenyut. Aku meringis. Hasil perjuanganku selama ini berbuah pahit dan justru mengantarkan raut wajah kecewa wanita yang menyayangiku. Selama ini, aku tidak pernah mendapatkan nilai di atas KKM dan selalu remidi. Kupikir, inilah kesempatanku. Ternyata, aku hanya terlalu berharap.

Harapan itu kandas, padahal Kimia adalah pelajaran favoritku. Mengapa angka lima puluh yang ditulis dengan tinta merah itu harus menghiasi kertas ujianku? Apakah kertas itu sengaja meledekku, tak menghargai usahaku untuk mengejar nilai yang baik?

Kuakui, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai yang jauh lebih baik. Namun, kenapa hasil malah mengkhianati usahaku?

“Kamu kenapa, Sandra?” tanya Keira, temanku yang wajahnya tengah berseri-seri karena baru saja mendapatkan nilai sempurna untuk ujian Kimia. “Sakit?” Ia mulai khawatir dengan raut wajahku yang mungkin sama gelapnya dengan awan mendung di luar jendela kelas.

Aku menggeleng. Berusaha keras untuk tidak terlalu bermelankolis meskipun pada akhirnya aku tetap terlihat demikian. Ya, hujan di bulan September ini benar-benar membuatku terbawa suasana. Tak biasanya hujan di bulan September bisa sederas ini. Petir saling menyambar, langit menggelap, dan matahari tertutup pesonanya oleh awan. Persis seperti suasana hatiku yang kelam.

Akhirnya, Keira menanyakan hal yang benar-benar tak ingin kujawab.

“Ujian Kimiamu dapat nilai berapa?”

Sontak, terdengar suara gemuruh dari arah langit. Petir kembali menyambar lalu lagi-lagi terdengar suara gemuruh itu. Aku hanya membalas pertanyaan Keira dengan gelengan.

“Enggak mau jawab?” tanya Keira. Kemudian, gadis itu mengerucutkan bibir.

“Aku penasaran soalnya, Sandra. Siapa tau enggak jelek-jelek amat.”

“Yah.” Aku menghela napas sebelum akhirnya memberi tahu nilai Kimia yang memalukan itu. “Lima puluh,” ujarku dengan berbisik.

Keira terkejut. Kaget kenapa aku bisa mendapat nilai separah itu.

“Kok bisa?” Reaksi itulah yang dia munculkan. Tepat seperti yang kuduga.

“Kaget aku, Sandra. Tapi, enggak biasanya kamu kayak gini. Kamu belajar enggak, sih?”

“Aku belajar, Keira. Aku belajar jauh lebih keras dari kalian. Tidur jam sepuluh malam, bangun jam dua pagi untuk belajar lagi. Lelah badan, lelah pikiran. Apa itu bisa dibilang enggak belajar?” ujarku dengan suara bergetar, sebisa mungkin kutahan emosi ini. Ya. Aku sudah belajar terlalu keras dan kalah telak oleh seisi kelas yang hanya belajar setengah-setengah.

Keira tak bisa berkata-kata. Karena melihatku yang mulai emosi, dia pun pergi setelah menepuk pundakku untuk menenangkan sesat. Aku menopang daguku dengan tangan, siku menekan permukaan meja. Kutatap hujan yang tak kunjung reda dari balik jendela. Perlahan, rangkaian peristiwa itu tersusun di kepalaku.

Waktu itu, aku terlalu belajar dengan keras. Aku sangat berambisi untuk mendapatkan nilai sempurna seperti Keira saat ini. Dengan menahan kantuk, malam itu aku berkutat dengan buku Kimia. Sampai jam sepuluh malam, aku tertidur. Aku benar-benar lupa berdoa kepada Tuhan seperti yang biasa kulakukan sebelum tidur.

Mungkin Tuhan menganggap bahwa aku adalah hamba yang sombong. Berpikir bahwa semuanya dapat berjalan dengan ambisi kuat tanpa campur tangan Tuhan. Terlalu berusaha keras sampai melupakan Tuhan yang mampu memilih berbagai peluang sebagai kenyataan sesuai kehendak-Nya. Terlalu lengah sampai mendapat pesan peringatan lewat angka merah yang tertera di kertas ujian.

Saat aku tengah berkutat dengan buku Kimia, azan dari masjid di belakang rumahku berkumandang. Seharusnya, aku menutup buku dan segera mengambil air wudu untuk sembahyang. Namun, mataku tak bisa lepas dari tulisan-tulisan di buku Kimia. Aku takut, takut akan remidi lagi.

Tak terasa, azan telah lewat. Interval azan dan ikamah pun tak kuhiraukan. Tanpa sadar, aku lebih takut pada hal yang bersifat duniawi. Setidaknya, aku berdoa untuk itu. Namun, kutegaskan sekali lagi bahwa aku terlalu sombong. Aku merasa takut, dan tidak mengadukan ketakutanku ke Sang Penentu Segalanya. Pengatur sistem di alam semesta ini, termasuk nasibku kelak.

Pintu kamarku terbuka. Wanita terhebat dalam hidupku, melihatku tengah berkutat dengan buku Kimia di atas meja belajar. Wajahnya menyunggingkan senyum.

“Sandra, Ibu mau ke warung dulu sebentar. Kamu jangan lupa sembahyang, ya.” Aku mengangguk.

“Oke, Bu.”

Akhirnya, setelah terdengar suara pintu rumah yang dikunci dari luar, aku masih belum keluar dari kamar untuk sembahyang. Buku Kimia masih bersamaku dan tanganku sibuk membolak-balik halaman buku itu.

Sampai ibu pulang pun, aku masih asyik berkutat dengan buku.

“Sandra, udah sembahyang, Nak?” tanya ibu.

Aku hanya mengangguk asal, lalu ibu mengelus puncak kepalaku. Telapak tangannya terasa sangat lembut dan hangat, membuatku ingin membahagiakannya dengan nilai-nilaiku yang tidak lagi di bawah KKM. Ya, aku tidak ingin lagi menjadi anak yang payah.

“Ibu lebih bangga kalau kamu rajin sembahyang dan mencintai Tuhan,” ujar wanita penyemangatku tiba-tiba.

Sontak, dadaku terasa sesak. Aku sama sekali belum sembahyang karena sibuk belajar. Hamba macam apakah aku ini? Mengandalkan usaha sendiri tanpa meminta bantuan Tuhan.

“Kamu belajar terlalu keras, Sandra. Ibu takut kalau kamu bakal lupa sama yang Di Atas.”

Setelah mengatakan hal yang begitu menusuk hati terdalam, wanita yang merawatku berjalan meninggalkan kamar. Tak lupa, ibu juga menutup pintu. Aku meringis. Tetap saja, aku tak boleh remidi lagi. Ujian Kimia adalah satu-satunya kesempatanku dan aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu dengan mendapat nilai di bawah KKM lagi.

Tak terasa, begitu kerasnya aku belajar sehingga tak mendengar azan Isya yang berkumandang. Akhirnya, ketika jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, aku tertidur. Sesaat sebelum tertidur, sempat terlintas di pikiranku kata-kata wanita yang berarti dalam hidupku.

“Kamu belajar terlalu keras, Sandra. Ibu takut kalau kamu bakal lupa sama yang Di Atas.”

Kembali kutatap kertas ujian Kimiaku dengan tatapan nanar. Namun, aku mulai menyadari sebuah hal kecil. Manusia yang hanya berusaha tanpa berdoa kepada Tuhannya adalah makhluk sombong. Seperti aku, mereka akan berusaha terlalu keras sampai melupakan kekuatan seuntai doa.

Mungkin kertas itu adalah sebuah teguran halus dari Tuhan. Sebuah peringatan sekaligus pemberi pelajaran dalam kehidupan yang fana ini. Mengajarkan bahwa usaha yang tidak dibarengi dengan doa akan menjadi sia-sia, justru menunjukkan setitik kesombongan.

Hujan di bulan September ini kembali turun, menunjukkan kuasa Tuhan. Untunglah aku sudah pulang ke rumah dan kini sedang duduk di atas kasur, memelototi kertas ujianku. Ibu pun masuk ke dalam kamar. Cepat-cepat kusembunyikan kertas ujian itu di belakang punggungku, namun terlambat.

“Kertas apa yang kamu sembunyikan, Sandra?” tanya ibu dengan nada tegas, “Sini Ibu lihat.”

Aku menyerahkan kertas ujian itu dengan pasrah. Dalam hati, aku memohon. Semoga aku tidak berlama-lama melihat raut wajah kecewa ibu untuk yang kesekian kalinya. Ya, jantungku ini begitu berdebar-debar menantikan reaksi ibu. Terlebih lagi ketika melihat ibu yang tampak serius memerhatikan kertas ujianku.

Tanpa diduga, ibu malah duduk di sampingku dan merangkulku.

“Kamu tau apa yang kurang dari usaha kerasmu itu?” tanyanya lembut.

Aku mengangguk.

“Ya. Aku terlalu sibuk belajar sampai lupa berdoa,” wajahku menunduk.

“Nah, benar, Sandra. Kita harus berusaha, tapi jangan lupa berdoa. Dengan berdoa, kita tidak akan lupa bahwa sejatinya yang menentukan hasil usaha kita adalah Tuhan. Kamu kemarin lupa sembahyang Isya? Sembahyang Tahajud? Bahkan Subuh?” Aku mengangguk lemah. Ibu pun menghela napas.

“Sandra, gimana nilaimu enggak hancur begini? Kamu sudah melupakan Tuhan dan sekarang Tuhan memberikan teguran halus,” ujar ibukecewa.

“Ibu kecewa sama kamu. Lain kali, jangan lupa sembahyang, mengerti?”

Sebelum aku sempat menanggapi, ibu sudah beranjak dari sisiku dan berjalan meninggalkan kamar. Aku hanya duduk diam, wajahku tertunduk karena penyesalan yang kurasakan ini. Hujan turun semakin deras di luar. Sampai aku menyadari suatu hal.

Hari ini, Tuhan sudah memberiku pelajaran yang begitu berharga lewat ibu dan kertas ujian itu.

Realisasi pengabdian masyarakat Universitas Indonesia yang mewadahi siswa SMP/SMA untuk menulis dan berkarya.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store